
Ini telah larut malam, namun Harold belum datang juga. Saya hingga lelah menunggunya. Semenjak dua jam yang lalu, saya telah duduk di kursi yang berlokasi di taman kota ini, Los Angeles. Sama sekali tak ada yang spesial sejak saya pindah ke kota ini dua tahun lalu. Tetapi, suasana malam di kota ini benar-benar membuatku agak ‘lupa diri’. Saya berdecak dongkol. Kemana buah hati itu sesungguhnya? Baiklah, saya akan menunggu lima menit lagi. Sekiranya lima menit kedepan Harold belum datang juga, saya akan pulang. “Jane!” teriak seseorang yang saya yakin mengarah kepadaku, sebab disini cuma ada sebagian orang yang berlalu-lalang. Lalu saya menoleh ke arah sumber bunyi, di belakangku. Saya memperhatikan Harold yang berlari ke arahku. Saya mendengus, lalu mengembalikan pandanganku ke depan. “Jane, I’m so sorry,” mohon Harold ketika ia telah ada di depanku dengan wajah berkeringat. “Mobilku rusak. Dan juga, Mom memintaku untuk membantunya mengoreksi oven.” ujar ia membeberkan mengapa ia dapat terlambat datang.

Harold benar-benar ganteng, lelaki tertampan yang pernah kulihat. Ia mempunyai mata berawarna hijau jelas dan tubuhnya agak berotot, membuatnya kian total. Banyak wanita yang menyukainya di sekolah. Pun, saya sendiri. Ya, saya jatuh hati padanya ketika pertama kali kita berbincang-bincang. Ia benar-benar ramah. Sifatnya yang dingin itu membuatku kian berharap memilikinya. Sedangkan ia menganggapku sebagai teman selama setahun kita bersahabat, namun saya konsisten mencintainya. Ia tak menyadari bahwa saya mencintainya. Ia benar-benar acuh kepada lingkungannya. Tetapi, saya konsisten akan memperjuangkan Harold, padahal saya tahu bahwa ia tidak akan pernah membalas cintaku. “Sudahlah. Sesungguhnya, untuk apa kamu memintaku untuk datang kesini?” tanyaku lalu memerintah Harold duduk. “Saya berharap memberitahukan sesuatu. Tetapi, kamu sepatutnya komitmen bahwa kamu tak akan sedih.” jawabnya. Saya mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sesungguhnya, saya dan Violet, akan…,” sebut ia menggantung. “Hey, ada apa? Kamu dan Violet akan apa?” tanyaku penasaran. Violet ini wanita populer di sekolah. Harold pernah menyebutkan Violet kepadaku. Ia bilang, ia menyenangi Violet. Tetapi, saya berupaya untuk menyembunyikan kesedihanku ketika itu. “Violet and I… Will be engaged. And after that, we’ll be going to marry.”
Ketika mendengar itu, hatiku lantas rapuh. Saya menatap Harold datar. Harold menatapku penuh berbahagia. Ia seperti berharap teriak ketika itu juga. Saya mengigit bibir, membendung tangis dan rasa sakit di hatiku yang kurasakan. “Congratulation. Saya ikut berbahagia.” responku lalu berdiri dari sana. “Saya sepatutnya pulang, Ibuku pasti telah mencariku.” pamitku lalu berjalan meninggalkan Harold sendirian di taman itu.
Saya berjalan lunglai hingga ke jalan. Walau telah larut malam, jalan di kota ini masih benar-benar ramai. Saya sepatutnya menyebrangi jalan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, saya terus berjalan. Hingga pada walhasil sebuah lampu yang menyilaukan mataku membuatku terhenti dan juga membuatku mengeluarkan cairan kental merah dari hidung dan kepalaku yang terbentur. Selamat tinggal, Harold. Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Jane yang malang.