Sunday, April 7, 2019

TRISAKTI 1998 PART 1

Massa yang terdiri dari para mahasiswa, dosen dan tamatan universitas trisakti mulai mendekati mimbar bebas untuk memperdengarkan orasi politik dan menyatakan aksi tenteram, tidak terkecuali mitha paramitha yang juga berpartisipasi dalam orasi itu. aksi tenteram ini dipicu sebab akhir-akhir ini kondisi ekonomi Indonesia kian goyah dan dilema internal lainnya. Mulanya orasi berjalan dengan lancar. Berulang kali Mitha meneriakkan kata-kata pembakar motivasi nasionalisme disusul teriakkan mahasiswa yang lain. mereka kembali menggalakkan aksi tenteram menuju gedung nusantara, kali ini mitha berada pada barisan paling depan bersama mahasiswi lainnya dengan membawa sebagian tangkai bunga mawar sebagai simbol penentraman. Namun entah kenapa hati mitha menikmati hal yang buruk. Tanpa terfikirkan mitha kembali mundur ke barisan paling belakang dan terdiam.
Sebagian ketika kemudian terdengar bunyi tembakan peluru yang benar-benar mengagetkan disusul dengan tembakan gas air mata, para mahasiswa lainnya bergerak mundur ditiru bergerak majunya aparat keamanan. Mitha yang tidak paham apa yang sedang terjadi mengingat mitha cuma tau bahwa mereka sedang menjalankan aksi tenteram seharusnya mendapatkan serangan tembakan. Para mahasiswa panik dan bercerai-berai, beberapa besar memilih untuk berlindung di universitas trisakti, namun mitha lebih memilih untuk berlindung di samping pagar kayu yang tertutup ideal lima ratus meter dari gedung nusantara. Mitha bisa mendengar dengan terang sebagian bunyi tembakan peluru yang membabi buta, teriakkan kepanikan dan deru langkah kaki terus melangkah. Mitha tahu kondisi di luar benar-benar kacau, namun apa tenaga dia tidak sanggup bertindak apa saja, tubuhnya bergetar hebat sebab ketakutan.
Pukul 18.30
Sesudah terjadi baku tembak yang tidak ada hentinya, mitha merasa kondisi sekitar telah mulai mereda, dia mulai melangkahkan kakinya menuju universitas, mitha seharusnya konsisten waspada di tiap-tiap langkahnya sebab dapat saja dengan gampang dia bisa diserang aparat petugas, sepanjang trek kelihatan rusak dan awut-awutan, mitha cuma bisa memperhatikan ngeri. Tidak jauh dari pandangannya kelihatan sebagian mahasiswa dan warga sipil yang terluka, mitha turut menolong mengevakuasi sebagian korban bersama mahasiswa lainnya untuk dilarikaan ke rumah sakit dan daerah yang aman. Para mahasiswa kembali panik sebab memperhatikan ada sebagian aparat berpakaian gelap di sekitar hutan dan sniper di atas gedung universitas yang masih dibangun, baku tembak malah tidak bisa terelakkan. mereka yang panik langsung berlari menuju gedung universitas yang dirasa cukup aman, sebab ketika itu mitha tengah membopong seorang korban yang terluka parah, dia tidak bisa melangkah dengan pesat, terdengar bunyi tembakan mengarah pada tubuhnya, mitha panik dan langsung menggendong si korban masuk ke ruang ormawa, dengan langsung mungkin mereka memadamkan lampu untuk sembunyi.

No comments:

Post a Comment