Sunday, April 7, 2019

TRISAKTI 1998 PART 2

Di ruangan itu, mereka mengatakan bahwa ada empat mahasiswa yang tewas tertembak peluru tajam, mereka amat beduka teramat dalam atas kejadian ini, tidak dikira niat bagus yang direncanakan dari permulaan berujung dengan insiden baku tembak. Sesudah sembunyi sekian lamanya, mereka memperhatikan kondisi mulai aman walau tidak sepenuhnya, tetapi mereka belum diizinkan pulang ke rumah masing-masing sebelum ada perintah. Dan di luar sana tengan terjadi dialog antara sebagian dosen dan pimpinan sedang berunding perihal kepastian pemulangan para mahasiswa, lalu disepakati bahwa mahasiswa bisa pulang dengan prasyarat keluar dari gedung secara sedikit demi sedikit per-lima orang, karenanya dengan metode seperti itu mahasiswa dijamin akan pulang dengan selamat.
Ahirnya instruksi itu langsung diinstruksikan terhadap yang lain, mereka mematuhinya dan masing masing keluar dari gedung sedikit-sedikit perlima orang secara bergiliran, kini giliran mitha dan barisannya yang keluar, dikala mitha mulai menapakkan kaki ke luar gedung tiba-tiba badannya terkulai lemas, darah mengalir di lututnya sampai dia tidak sadarkan diri.
“lalu mengapa sesudah itu mama pingsan?” Gadis kecil itu bertanya dengan polos terhadap mamanya. “apabila dipandang dari cerita tadi, menurutku mama pingsan sebab kakinya tertembak ketika membantu korban yang terluka itu dik.” Tutur candra, satu-satunya kakak lelakinya yang berusia dua tahun lebih tua. “haha, iya candra ideal sekali, pertanyaan cantik juga baik, ingat ya, saling bantu membantu yakni tindakan mulia, apalagi ketika keadaan kacau seperti itu, energi medis sangatlah terbatas, tidak ada yang sanggup membantu selain diri kita sendiri” tutur mama dengan lembut disertai belaian lembut tangannya di puncak kepala si kecil-si kecilnya. “namun ma, saya yakin pasti ada seseorang yang memancing kerusuhan itu terjadi, sepertinya memang disengaja, ada provokator dan dalang yang mengontrol segala dibalik tragedi itu.” kata farah, putri sulungnya degan menggebu-gebu, ia lebih paham dibanding adik-adiknya yang masih TK dan kelas 5, mungkin sebab memperoleh pembelajaran PKN di sekolah, lebih-lebih farah baru masuk sma, sesuai apabila kata-katanya seperti itu puitis. “mama dan segala orang juga berfikir seperti itu farah, namun tetaplah tidak ada seseorang yang timbul untuk mempertanggungjawabkan semuanya. sebetulnya kami telah berupaya mencari dan melacak eksistensi si pelaku utama, namun alhasil nihil, hal itu seperti telah tersembunyi dan tertata dengan rapi, tidak ada yang menemukannya, kasus ini malah pelan terlupakan.”

No comments:

Post a Comment