Saturday, April 13, 2019

MISTERI VILLA BERDARAH PART 6

Kakek tua itu mulai memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan nama saya Handoyo." Mendengar nama kakek tua Steven dan David langsung terkejut lalu siapa yang ada dalam makam di belakang villa tersebut. Lalu kakek Handoyo mulai bercerita bagaimana semua kejadian-kejadian aneh ini bermula. Pada enam puluh tahun silam ia memulai bisnisnya bersama seorang rekannya yang bernama Sophian. Awalnya semua berjalan lancar tanpa ada kendala. Saat itu keduanya masih sangat muda mereka baru dan tidak berpikir untuk berkeluarga. Yang ada di pikiran mereka hanyalah bagaimana membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Sampai pada suatu ketika saat mengerjakan sebuah proyek yang terbilang cukup besar. Proyek yang mereka kerjakan tiba-tiba di hentikan di tengah jalan hal ini menyebabkan kerugian yang sangat besar. Besarnya kerugian yang harus di tanggung menyebabkan Sophian rekannya kakek Handoyo harus mendekam di penjara untuk waktu yang cukup lama. Seiring berjalannya waktu usaha kakek Handoyo pun meraih kesuksesan besar. Melihat hal ini rekan dari kakek Handoyo pun merasa kesal dan mendendam. Ia mulai berpikir bahwa kerugian proyek itu di sebab oleh kakek Handoyo yang sengaja ingin menguasai sendiri perusahaan itu.
Namun semua itu tidak benar kakek Handoyo berusaha meyakinkan Sophian bahwa kerugian yang menyebabkannya masuk ke dalam penjara karena mereka di jebak pada saat itu. Akan tetapi hingga saat ini kakek Handoyo belum dapat membuktikan siapa yang menjebak dirinya dan Sophian. Oleh karena itu kakek Handoyo menyewa tim pengacara untuk mencari fakta dan bukti-bukti siapa yang menghancurkan proyeknya lima puluh delapan lalu. Di samping itu Sophian yang terus mendendam pada kakek Handoyo berusaha terus menghancurkan kakek Handoyo. Hingga terjadilah kejadian delapan belas tahun lalu di villa angker ini satu keluarga tewas terbakar. Keluarga yang tewas tersebut merupakan keluarga anak pertama kakek Handoyo. Dari salah satu karyawan anaknya yang ikut tewas ada kakak dan kakak ipar Paijo.
Kakek Handoyo melanjutkan ceritanya setelah ia membasahi tenggorokannya dengan segelas teh hangat. Sedangkan Paijo yang duduk di lantai sebelah kursi kakek Handoyo sudah mulai tertidur di kaki kakek Handoyo. Steven dan David yang mendengarkan cerita kakek Handoyo sambil melihat album foto yang di berikan oleh kakek Handoyo. Bertambah penasaran akan kelajutan cerita kakek Handoyo. Di lanjut besok gaes mata uda siwer neh :)) 

MISTERI VILLA BERDARAH PART 9

Sesampainya pengacara kakek Handoyo dan timnya tiba Steven dan David segera memberikan surat yang ditujukan kepada pengacara kakek Handoyo. Pengacara kakek Handoyo pun segera membaca isi surat itu saat mulai membaca isi surat itu sesekali mata pengacara itu melihat ke arah Steven dan David dengan tatapan sinis. Namun setelah selesai membaca surat itu tatapan pengacara itu berubah drastis seraya berkata, "Berapa usia kalian sekarang? Dan apa kegiatan kalian? Siapa diantara kalian yang bernama David?" Steven pun menjawab semua pertanyaan itu dengan tenang, "Saya Steven dan ini adalah David kami berusia 23 tahun dan kami adalah mahasiswa semester akhir." "Kalau begitu baiklah ini rencana pertama-tama kita kuburkan jasad tuan Handoyo terlebih dahulu sebelum Paijo sadar kalau tuan Handoyo telah wafat. David kau pergi temani Paijo sedangkan kau Steven segera pelajari buku ini (seraya menyerahkan sebuah buku kepada Steven) dan ikuti tim makeup yang saya bawa. Tim saya yang lain akan segera mengurus jasad tuan Handoyo." Setelah mendengar instruksi pengacara kakek Handoyo, David dan Steven serta tim pengacara kakek Handoyo segera melakukan tugas mereka masing-masing.
 Setelah semua siap dan rapi, David dan Paijo pun kembali ke dalam villa. Pengacara kakek Handoyo pun menjelaskan sandiwara apa yang harus mereka mainkan. Selesai menjelaskan semuanya pengacara itu pun berkata, "Kalian harus memainkan peranan ini sampai aku kembali bersama cucu tuan Handoyo. Mengenai kuliah kalian aku akan beritahu pihak perguruan tinggi kalian untuk memberikan materi secara online sehingga kalian akan dapat terus menyelesaikan kuliah kalian. Dan untuk keluarga kalian, kalian dapat pulang secara bergantian ke rumah kalian masing-masing dengan izin staffku. Aku akan meninggalkan salah seorang staffku di sini untuk membantu kalian mengurusi segala sesuatunya." "Akhir cerita ini ada di tangan kalian dan keberhasilan kalian memainkan peranan kalian masing-masing. Pertahankan persahabatan kalian dan gunakan Hati Nurani kalian untuk setiap masalah yang datang. Kalian adalah pemuda yang baik pertahankan itu jangan biarkan masa lalu merusak nati nurani kalian dan persahabatan kalian." lanjut pengacara itu. Steven dan David menjadi semakin penasaran apa maksud dari nasehat pengacara kakek Handoyo, karena nasehat tersebut sama seperti isi dari surat kakek Handoyo. Namun mereka tidak ingin merusak rencana kakek Handoyo dengan maksud nasehat tersebut. Karena mereka juga ingin menegakkan keadilan bagi kakek Handoyo dan keluarganya. Oleh karena itu mereka tetap menyimpan semua teka-teki itu dalam hati mereka masing-masing. Bersambung

Sunday, April 7, 2019

TRISAKTI 1998 PART 2

Di ruangan itu, mereka mengatakan bahwa ada empat mahasiswa yang tewas tertembak peluru tajam, mereka amat beduka teramat dalam atas kejadian ini, tidak dikira niat bagus yang direncanakan dari permulaan berujung dengan insiden baku tembak. Sesudah sembunyi sekian lamanya, mereka memperhatikan kondisi mulai aman walau tidak sepenuhnya, tetapi mereka belum diizinkan pulang ke rumah masing-masing sebelum ada perintah. Dan di luar sana tengan terjadi dialog antara sebagian dosen dan pimpinan sedang berunding perihal kepastian pemulangan para mahasiswa, lalu disepakati bahwa mahasiswa bisa pulang dengan prasyarat keluar dari gedung secara sedikit demi sedikit per-lima orang, karenanya dengan metode seperti itu mahasiswa dijamin akan pulang dengan selamat.
Ahirnya instruksi itu langsung diinstruksikan terhadap yang lain, mereka mematuhinya dan masing masing keluar dari gedung sedikit-sedikit perlima orang secara bergiliran, kini giliran mitha dan barisannya yang keluar, dikala mitha mulai menapakkan kaki ke luar gedung tiba-tiba badannya terkulai lemas, darah mengalir di lututnya sampai dia tidak sadarkan diri.
“lalu mengapa sesudah itu mama pingsan?” Gadis kecil itu bertanya dengan polos terhadap mamanya. “apabila dipandang dari cerita tadi, menurutku mama pingsan sebab kakinya tertembak ketika membantu korban yang terluka itu dik.” Tutur candra, satu-satunya kakak lelakinya yang berusia dua tahun lebih tua. “haha, iya candra ideal sekali, pertanyaan cantik juga baik, ingat ya, saling bantu membantu yakni tindakan mulia, apalagi ketika keadaan kacau seperti itu, energi medis sangatlah terbatas, tidak ada yang sanggup membantu selain diri kita sendiri” tutur mama dengan lembut disertai belaian lembut tangannya di puncak kepala si kecil-si kecilnya. “namun ma, saya yakin pasti ada seseorang yang memancing kerusuhan itu terjadi, sepertinya memang disengaja, ada provokator dan dalang yang mengontrol segala dibalik tragedi itu.” kata farah, putri sulungnya degan menggebu-gebu, ia lebih paham dibanding adik-adiknya yang masih TK dan kelas 5, mungkin sebab memperoleh pembelajaran PKN di sekolah, lebih-lebih farah baru masuk sma, sesuai apabila kata-katanya seperti itu puitis. “mama dan segala orang juga berfikir seperti itu farah, namun tetaplah tidak ada seseorang yang timbul untuk mempertanggungjawabkan semuanya. sebetulnya kami telah berupaya mencari dan melacak eksistensi si pelaku utama, namun alhasil nihil, hal itu seperti telah tersembunyi dan tertata dengan rapi, tidak ada yang menemukannya, kasus ini malah pelan terlupakan.”

TRISAKTI 1998 PART 1

Massa yang terdiri dari para mahasiswa, dosen dan tamatan universitas trisakti mulai mendekati mimbar bebas untuk memperdengarkan orasi politik dan menyatakan aksi tenteram, tidak terkecuali mitha paramitha yang juga berpartisipasi dalam orasi itu. aksi tenteram ini dipicu sebab akhir-akhir ini kondisi ekonomi Indonesia kian goyah dan dilema internal lainnya. Mulanya orasi berjalan dengan lancar. Berulang kali Mitha meneriakkan kata-kata pembakar motivasi nasionalisme disusul teriakkan mahasiswa yang lain. mereka kembali menggalakkan aksi tenteram menuju gedung nusantara, kali ini mitha berada pada barisan paling depan bersama mahasiswi lainnya dengan membawa sebagian tangkai bunga mawar sebagai simbol penentraman. Namun entah kenapa hati mitha menikmati hal yang buruk. Tanpa terfikirkan mitha kembali mundur ke barisan paling belakang dan terdiam.
Sebagian ketika kemudian terdengar bunyi tembakan peluru yang benar-benar mengagetkan disusul dengan tembakan gas air mata, para mahasiswa lainnya bergerak mundur ditiru bergerak majunya aparat keamanan. Mitha yang tidak paham apa yang sedang terjadi mengingat mitha cuma tau bahwa mereka sedang menjalankan aksi tenteram seharusnya mendapatkan serangan tembakan. Para mahasiswa panik dan bercerai-berai, beberapa besar memilih untuk berlindung di universitas trisakti, namun mitha lebih memilih untuk berlindung di samping pagar kayu yang tertutup ideal lima ratus meter dari gedung nusantara. Mitha bisa mendengar dengan terang sebagian bunyi tembakan peluru yang membabi buta, teriakkan kepanikan dan deru langkah kaki terus melangkah. Mitha tahu kondisi di luar benar-benar kacau, namun apa tenaga dia tidak sanggup bertindak apa saja, tubuhnya bergetar hebat sebab ketakutan.
Pukul 18.30
Sesudah terjadi baku tembak yang tidak ada hentinya, mitha merasa kondisi sekitar telah mulai mereda, dia mulai melangkahkan kakinya menuju universitas, mitha seharusnya konsisten waspada di tiap-tiap langkahnya sebab dapat saja dengan gampang dia bisa diserang aparat petugas, sepanjang trek kelihatan rusak dan awut-awutan, mitha cuma bisa memperhatikan ngeri. Tidak jauh dari pandangannya kelihatan sebagian mahasiswa dan warga sipil yang terluka, mitha turut menolong mengevakuasi sebagian korban bersama mahasiswa lainnya untuk dilarikaan ke rumah sakit dan daerah yang aman. Para mahasiswa kembali panik sebab memperhatikan ada sebagian aparat berpakaian gelap di sekitar hutan dan sniper di atas gedung universitas yang masih dibangun, baku tembak malah tidak bisa terelakkan. mereka yang panik langsung berlari menuju gedung universitas yang dirasa cukup aman, sebab ketika itu mitha tengah membopong seorang korban yang terluka parah, dia tidak bisa melangkah dengan pesat, terdengar bunyi tembakan mengarah pada tubuhnya, mitha panik dan langsung menggendong si korban masuk ke ruang ormawa, dengan langsung mungkin mereka memadamkan lampu untuk sembunyi.

MISTERI VILLA BERDARAH PART 7


Setelah kejadian itu istri kakek Handoyo terkena stroke selama bertahun lamanya hal itu membuat kakek Handoyo harus merawat istrinya. Sehingga kakek Handoyo tidak dapat mengurus villa berdarah ini. Yang pada akhirnya ia menjual villa ini pada seorang rekan bisnisnya agar dapat di renovasi. Karena kakek Handoyo tidak sanggup melihat puing villa ini terlalu banyak kenangan yang tak terlupakan dalam puing villa ini. Kemudian kakek Handoyo menceritakan mengapa banyak kejadian aneh yang terjadi di villa ini. Semua kejadian aneh di villa ini semua rekayasa kakek Handoyo untuk menjauhkan para penduduk sekitar villa. Karena kakek Handoyo ingin mengetahui siapa dalang pembakaran villa ini. Setelah bukti-buktinya terkumpul maka ia menjual villa kepada rekan bisnisnya dan membuat strategi untuk seakan-akan roh anaknya dan keluarganya masih menuntut balas. 
Kakek Handoyo juga menceritakan bahwa ia sudah memiliki cukup bukti siapa dalang pembakaran villa anak pertamanya. Oleh karena itu ia menyuruh anak keduanya pergi bersembunyi ke Belgia dan jangan pernah kembali ke Indonesia. Kakek Handoyo memberikan liontin berisi gambar keluarga mereka dan berpesan agar liotin itu sajalah yang kembali menemuinya serta memberi kabar keadaan anak keduanya. Namun tampaknya waktu tidak memungkinkan baginya untuk terus menunggu waktu tersebut. Lanjut kakek Handoyo tanpa di sadarinya darah segar keluar dari mulut kakek Handoyo. Melihat itu Steven langsung memberikan air putih untuk melegakan pernapasan kakek Handoyo. Setelah meminum air dari Steven melanjutkan caritanya ia berkata bahwa dirinya tealh mengetahui siapa penyebab kerugian proyeknya lima puluh delapan tahun lalu dan siapa pelaku pembakaran villa ini yang menyebabkan semua keluarganya hancur berantakan. Kakek Handoyo juga menjelaskan alasannya mengapa ia tinggal sendiri di villa ini hanya di temani oleh Paijo saja. Hal ini dia lakukan untuk menjauhkan cucunya dari musuh-musuhnya. Karena istrinya telah meninggal dan dia hanya ingin menunggu cucunya untuk mengungkap semua kebenaran yang tersembunyi. Ia pun ingi segera berkumpul dengan istri tercinta dan anak pertamanya.
Kakek Handoyo juga mengetahui apa yang di lakukan oleh Steven dan David beberapa hari belakangan ini di villanya. Tetapi kakek Handoyo membiarkan hal itu karena kakek Handoyo meginginkan Steven dan David menggantikan posisinya untuk menunggu cucu kakek Handoyo. Dan memberikan bukti-bukti yang telah berhasil ia kumpulkan. Disamping itu kakek Handoyo berharap David dan Steven mau merawat Paijo. Karena selain bisu, tuli, dan fisik yang tidak sempurna Paijo juga memiliki keterbelakangan mental. Namun walau begitu Paijo sangat penurut, ramah dan baik hati serta memiliki stamina dan tenaga yang kuat. Kakek Handoyo melihat Steven dan David merupakan orang yang bisa di percaya untuk melakukan tugas ini.

Saturday, April 6, 2019

JANE Yang Malang

Ini telah larut malam, namun Harold belum datang juga. Saya hingga lelah menunggunya. Semenjak dua jam yang lalu, saya telah duduk di kursi yang berlokasi di taman kota ini, Los Angeles. Sama sekali tak ada yang spesial sejak saya pindah ke kota ini dua tahun lalu. Tetapi, suasana malam di kota ini benar-benar membuatku agak ‘lupa diri’. Saya berdecak dongkol. Kemana buah hati itu sesungguhnya? Baiklah, saya akan menunggu lima menit lagi. Sekiranya lima menit kedepan Harold belum datang juga, saya akan pulang. “Jane!” teriak seseorang yang saya yakin mengarah kepadaku, sebab disini cuma ada sebagian orang yang berlalu-lalang. Lalu saya menoleh ke arah sumber bunyi, di belakangku. Saya memperhatikan Harold yang berlari ke arahku. Saya mendengus, lalu mengembalikan pandanganku ke depan. “Jane, I’m so sorry,” mohon Harold ketika ia telah ada di depanku dengan wajah berkeringat. “Mobilku rusak. Dan juga, Mom memintaku untuk membantunya mengoreksi oven.” ujar ia membeberkan mengapa ia dapat terlambat datang.
Harold benar-benar ganteng, lelaki tertampan yang pernah kulihat. Ia mempunyai mata berawarna hijau jelas dan tubuhnya agak berotot, membuatnya kian total. Banyak wanita yang menyukainya di sekolah. Pun, saya sendiri. Ya, saya jatuh hati padanya ketika pertama kali kita berbincang-bincang. Ia benar-benar ramah. Sifatnya yang dingin itu membuatku kian berharap memilikinya. Sedangkan ia menganggapku sebagai teman selama setahun kita bersahabat, namun saya konsisten mencintainya. Ia tak menyadari bahwa saya mencintainya. Ia benar-benar acuh kepada lingkungannya. Tetapi, saya konsisten akan memperjuangkan Harold, padahal saya tahu bahwa ia tidak akan pernah membalas cintaku. “Sudahlah. Sesungguhnya, untuk apa kamu memintaku untuk datang kesini?” tanyaku lalu memerintah Harold duduk. “Saya berharap memberitahukan sesuatu. Tetapi, kamu sepatutnya komitmen bahwa kamu tak akan sedih.” jawabnya. Saya mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sesungguhnya, saya dan Violet, akan…,” sebut ia menggantung. “Hey, ada apa? Kamu dan Violet akan apa?” tanyaku penasaran. Violet ini wanita populer di sekolah. Harold pernah menyebutkan Violet kepadaku. Ia bilang, ia menyenangi Violet. Tetapi, saya berupaya untuk menyembunyikan kesedihanku ketika itu. “Violet and I… Will be engaged. And after that, we’ll be going to marry.”
Ketika mendengar itu, hatiku lantas rapuh. Saya menatap Harold datar. Harold menatapku penuh berbahagia. Ia seperti berharap teriak ketika itu juga. Saya mengigit bibir, membendung tangis dan rasa sakit di hatiku yang kurasakan. “Congratulation. Saya ikut berbahagia.” responku lalu berdiri dari sana. “Saya sepatutnya pulang, Ibuku pasti telah mencariku.” pamitku lalu berjalan meninggalkan Harold sendirian di taman itu.
Saya berjalan lunglai hingga ke jalan. Walau telah larut malam, jalan di kota ini masih benar-benar ramai. Saya sepatutnya menyebrangi jalan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, saya terus berjalan. Hingga pada walhasil sebuah lampu yang menyilaukan mataku membuatku terhenti dan juga membuatku mengeluarkan cairan kental merah dari hidung dan kepalaku yang terbentur. Selamat tinggal, Harold. Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Jane yang malang.

Palangkaraya kota perpisahanku

Akibatnya kulepaskan dirimu dengan sederet luka yang menganga. Kau abaikan saya ketika khawatirku menjelma menjadi rindu. Tiba-tiba saja kau tepis soal saya dari nyatamu.
Baiklah, sejauh ini saya keok dalam pro kontra. Saya tau saya berlebihan. Mungkin kamu benar saya senantiasa berlebihan untuk keadaan apa saja.
Perlu kamu tahu sudah kuselami kau sejauh ini, kusisihkan setengah harap di jalanmu. Kutanamkan sebuah percaya di jantungmu. Imanilah semampumu, saya tidak berharap cuma sebuah pelampiasan pengaruh sulitmu melupakanku. Maukah kamu mendengarnya?
Supaya kamu tahu, besar mimpiku menjadikanmu selamanya. Jembatan yang kulalui antara hidup atau matiku. Saya menitinya pelan. Kumohon jangan biarkan saya jatuh di tengah jalan yang sedang saya arungi. Saya masih berupaya. Sedangkan kutahu di bawah sana ada curam yang menghanyutkan dan menghilangkan saya terhadapmu.
 Kenapa tanpa apa saja kau memilih membisu? Memilih bungkam atas pernyataanku. Seolah saya cuma bayang ilusi yang penuh yakin bercakap padamu.
Saya malahan tak tahu jam berapa kepergianmu. Tepatnya kau tidak membalas pesan yang ratusan kali kukirimi seputar menanyakan apakah kau masih dalam kondisi bagus, apakah penerbanganmu berjalan lancar? Apakah kau sukses berteman di kota barumu?
Kau membuatku risau sejadi-jadinya ketika cintaku mulai tumbuh lagi. Bagaimana mungkin saya tidak murung. Dikala kepergianmu tidak sepatah katapun kau sampaikan. Padahal untuk men-upload foto kau punya banyak waktu. Bukan cuma itu. Teman wanitamu memamerkan kemesraan perbincangan kalian dalam chat pribadi. Pada hal ini apakah saya wajib kau salahkan lagi? Apakah saya tak memiliki hak menuntut? Kini, pergilah semaumu. Belum apa-apa caramu menampilkan sesungguhnya bahwa kamulah yang memasang percikan api.
Tiba-tiba saja kau menghilang tanpa berita, apa kamu kaprah dipermainkan rindu dan sayang itu menyenangkan? Pergilah seperti ingin dan inginmu. Jangan kembali lagi. jikalau suatu hari kamu mulai menyadari bahwa saya yang paling berharap memilikimu dahulu, merupakan cinta yang harus padamu, rengkuh saja pilihanmu. Peluk apa yang kau sukai ketika hari itu kau abaikan saya seorang diri yang menunggu balasmu. Kau akan memahami dan belajar bahwa tidak seluruh yang pergi wajib kembali tidak seluruh yang kau cipta wajib kau pateni dalam sanubarimu. Hari ini kamu sudah kehilangan diriku dengan semua yang kupunya. Teruskan jalanmu. Saya malahan perlu melanjutkan hidup. Dengan seseorang yang menanti dan membuka pintu bagi diriku. Pergilah bersama macam atau gaya hidupmu. Saya Hanya bekas yang kau jadikan obor pembendung cinta semata saja, kuharap kamu tak terluka sebab ulahmu.

MISTERI VILLA BERDARAH PART 8

Matahari telah mengitip dari ufuk timur saat itu menandakan pagi telah menjelang dan Paijo pun telah tersadar dari tidur pulasnya. Kini saatnya kakek Handoyo untuk beristirahat, Steven dan David membantu kakek Handoyo kembali ke kamarnya untuk beristirahat. David dan Steven pun membantu Paijo untuk membersihkan villa tersebut dengan arahan dari Paijo. Setelah membantu Paijo membereskan villa matahari telah berada di atas kepala ketiga orang tersebut David dan Steven pun juga mulai mengantuk. Steven dan David pun beristirahat di kamar Paijo sedangkan Paijo pergi membeli kebutuhan sehari-hari. Waktu menunjukan pukul dua siang saat Steven dan David terbangun dari tidurnya. Saat itu juga Paijo memanggil mereka berdua untuk menemui kakek Handoyo. Paijo, Steven dan David segera menemui kakek Handoyo di kamarnya. Setiba di kamar kakek Handoyo memberikan dua buah surat yang terbungkus amplop putih kepada David dan Steven. Dan berkata, "Berikan surat ini kepada pengacaraku. Dalam surat itu terdapat alamat dan nama pengacarku. Dia tahu apa yang harus dilakukan setelah membaca surat ini. Ingatlah pesan ku tolong kalian jaga Paijo karena kami-kamilah dia harus menjadi sebatang kara." David dan Steven menyanggupinya seraya berkata, "Kakek tenang saja kami berdua pasti akan merawat Paijo seperti saudara kami sendiri, kek." "Baiklah aku tenang mendengarnya. Aku tenang sekarang baiklah aku akan kembali beristirahat sekarang." Setelah berkata itu kakek Handoyo pun menghembuskan napas terakhirnya.
Steven dan David pun bingung sedangkan Paijo yang belum menyadari kematian kakek Handoyo hanya menyelimuti tubuh kakek Handoyo. David yang sedang memegang surat pemberian kakek Handoyo segera melihat surat yang tebungkus amplop itu di setiap amplop terdapat nama. Salah satu amplop itu bertuliskan nama Steven dan David. David segera membuka amplop yang bertuliskan namanya dan Steven. Sedangkan Steven menunggu David membacakan isi surat tersebut. Dalam surat itu tertulis "Steven dan David aku percayakan Paijo kepada kalian. Maafkan jika aku harus membebankan kalian untuk menyelesaikan tugasku yang belum terselesaikan. Aku berharap kalian mau melakukan sandiwara untukku agar semua keadilan bisa di tegakan dan kebenaran dapat terungkap. Saat kalian memberikan surat yang lainnya kepada pengacarku, maka pengacaraku akan menjadi sutradara bagi kalian dan kalian akan memainkan peran kalian masing-masing. Aku berharap kalian bisa memainkan peranan kalian dengan baik. Akhir cerita ini sebenarnya ada di tangan kalian, Kalianlah kunci dari akhir cerita ini. Karena sejak kalian mengamati villa ini aku sudah mencari tahu latar belakang kalian dan aku pun sudah mengetahui latar belakang kalian. Kalian adalah pemuda yang baik maka perthankanlah itu. Percayakan semuanya pada Hati Nurani kalian. Jangan biarkan persahabatan kalian hancur karena masa lalu kalian. Kalian harus tahu bahwa yang telah berlalu biarlah berlalu jagalah masa depan dengan persahabatan kalian." Setelah membaca surat itu Steven segera menghubungi pengacara kakek Handoyo. Pengacara kakek Handoyo yang semula tidak percaya setelah mendengar penjelasan Steven dan David. Segera meluncur dengan timnya menuju villa kakek Handoyo. Bersambung

Friday, April 5, 2019

MiSTERI VILLA BERDARAH PART 5

 Steven dan David pun memeriksa ke tiga belas makam itu satu per satu mereka pun semakin terkejut dan semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di villa ini. Karena di antara ketiga belas makam tersebut dua belas diantaranya adalah makam dari keluarga pengusaha yang meninggal terbakar di villa tersebut beberapa tahun sebelum villa ini di renovasi. Dan di antara duabelas makam tersebut ada lima makam yang memiliki nama belakang yang sama yaitu Handoyo. Kedua pemuda ini semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi di dalam villa ini dan mengapa ada enam makam yang memiliki nama Handoyo. Setelah mengamati areal pemakaman itu cukup lama akhirnya kedua pemuda itu kembali pada rencana awal yaitu masuk ke dalam bangunan utama villa tersebut. Mereka melihat sebuah jendela yang terbuka di lantai dua. Mereka berusaha mencari sesuatu untuk menaiki tembok bangunan utama villa itu. Di saat sedang mencari-cari sesuatu tiba-tiba dari jendela yang terbuka itu keluar seutas tali seakan tali itu sengaja di turunkan untuk mereka berdua. Tanpa pikir panjang kedua pemuda itu pun langsung meraih tali itu dan memanjat ke lantai dua dengan tali tersebut. 
Setelah tiba di dalam villa tersebut kedua pemuda itu melihat sebuah lukisan yang wanita muda berumur sekitar dua puluhan mengunakan gaun putih panjang. Dengan rambut yang panjang dan terurai menutupi kedua bahunya. Kedua mata gadis itu tampak bersedih dan wajahnya menunjukan kesediahan yang mendalam. Saat tengah asyik melihat memperhatikan lukisan itu tiba-tiba sebuah suara yang parau dan rapuh mengejutkan mereka, "maaf mohon aden-aden sopan saat melihat lukisan itu. Itu adalah lukisan Nyonya Handoyo yang di lukis oleh tuan sendiri." Saat mereka melihat ke arah suara itu mereka melihat seorang lelaki tua berumur sekitar tujuh puluhan hampir delapan puluh tahun. "Mari den kita berbincang di bawah saja." ajak pemilik suara itu sembari menujukkan jalan kepada Steven dan David menggunakan senternya. Kedua pemuda itu membantu lelaki tua itu untuk berjalan dan menurunin tangga menuju tempat yang di maksud oleh si kakek tua tersebut. Setelah sampai di tempat yang di maksud si kakek tua membuka pintu ruangan itu dan mempersilahkan kedua pemuda itu untuk duduk sejenak. Si kakek tua tersebut kemudian memanggil anaknya yang bernama Paijo untuk menyiapkan minuman dan makanan kecil. Sementara mereka bertiga menunggu minuman dan makanan ringan kakek tua itu mengambil sebuah album foto. Bersambung

MISTERI VILLA BERDARAH PART 4

Luas villa angker itu kurang lebih sekitar satu setengah hektar dan terletak di belakang bukit kecil dekat permukiman penduduk. Satu-satunya akses keluar masuk villa tersebut adalah melalu pintu pagar besi yang tinggi sekitar tiga meter. Dan hanya Paijo yang bisa membuka pintu pagar besi itu karena berat pintu pagar besi itu hampir mencapai setengah ton. Terlebih lagi pagar tersebut selalu terkunci dengang rantai yang besarnya sebesar lengan orang dewasa. Steven dan David yang telah melakukan pengamatan dan membuat recana serta mempersiapkan semuanya mulai menjalankan aksinya. Mereka mulai memanjat bukit yang ada di belakang villa tersebut saat matahari mulai tenggelam. Hari dimana mereka melancarkan aksinya merupakan malam bulan purnama dan malam itu pun cuaca cukup cerah. Sehingga sinar bulan dapat memberikan penerangan yang cukup bagi mereka, disamping itu cuaca yang malam itu tidak terlalu dingin. Suhu pada aplikasi cuaca yang terdapat pada smartphone kedua pemuda itu menunjukan suhu tiga puluh dua derajat celcius. Setelah dua jam mereka mendaki bukit di belakang villa tersebut mereka pun sampai pada puncak bukit. Mereka pun mulai menuruni bukit itu menuju tembok pagar daripada villa tersebut setelah beberapa menit kemudian mereka pun masuk kedalam area lokasi villa angker tersebut. Udara di dalam area villa itu berubah sangat drastis menjadi sangat dingin. Walaupun suhu pada smartphone kedua pemuda itu menunjukkan suhu tiga puluh dua derajat. Akan tetapi udara di dalam area villa itu sangat menusuk tulang. Namun tekad kedua pemuda itu sudah bulat mereka harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada villa tersebut. Apa penyebab semua kejadian-kejadian aneh yang berada di luar nalar manusia normal.
Walau udara yang dingin mencekam dan di tambah bau kemeyan serta kembang melati sangat kuat di dalam halaman villa tersebut. Kedua pemuda itu terus melangakah seraya mengendap-endap. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil napas dan mengawasi keadaan sekitar udara di dalam area villa tersebut terasa sangat berat walaupun dedaunan di dalam areal villa tampak menari-nari menyambut kedua pemuda itu. Jam telah menunjukan pukul 00.30 saat mereka tiba pada bangunan utama villa tersebut. Kedua pemuda itu mulai mencari celah untuk memasuki bangunan utama villa tersebut. Namun tanpa sengaja David terjatuh karena tersangkut sesuatu, setelah di lihat dengan teliti ternyata itu merupakan sebuah batu nisan. Alangkah terkejutnya mereka berdua ada tiga belas makam di sana. Tidak seperti cerita penduduk sekitar villa yang mengatakan hanya ada satu makam di halaman belakang villa. Bersambung

MISTERI VILLA BERDARAH PART 3

Mereka pun bertanya kepada kedua anaknya apa yang telah terjadi dan kedua anak itu pun bercerita bahwa rumah mereka di hancur oleh angin jahat. Dan mereka menceritakan bahwa hanoman telah datang menolong mereka dengan memindahkan atap balai bambu itu. Mendengar cerita kedua orang anaknya orang tuanya segera melaporkan kepada ke pengurus desa untuk meminta ganti rugi kepada villa angker tersebut. Namun tidak satu pun dari penduduk yang berani menagih ganti rugi tersebut walupun mereka semua menyetujui keputusan untuk meminta ganti rugi. Waktu demi waktu berlalu kebaikan dan kekuatan Paijo semakin di kenal oleh penduduk desa. Bahkan Paijo sering di mintai bantuannya untuk mengangkat hasil panen dari penduduk. Namun Paijo tidak pernah meminta imbalan dia hanya menerima imbalan beberapa permen lolipop. Karena Paijo suka sekali dengan anak-anak kecil setiap permen lolipop yang ia dapatkan selalu dia bagikan kepada anak-anak yang dia temui. Semua penduduk sekitar villa tersebut sangat menyukai Paijo walau perawakannya yang menyeramkan namun hatinya bagai dewa yang turun dari langit.
Walau sering membantu warga sekitar Paijo sendiri tidak pernah lupa untuk membantu ayahanya membersihkan dan merawat villa serta barang-barang antik milik Pak Handoyo(pemilik terakhir villa angker). Karena pesan terakhir dari Pak Handoyo sebelum wafat adalah untuk menjaga villa tersebut hingga cucunya dari anak keduanya datang dari Belgia dan membaca surat yang di simpan di dalam lemari besi di dalam villa tersebut. Sedangkan ayah Paijo di percayakan untuk menjaga villa tersebut sampai cucu pak Handoyo tiba. Untuk biaya hidup sehari-hari Paijo dan ayahnya telah di atur oleh pengacara pak Handoyo. Semua perusahaan milik Pak Handoyo di kelola oleh kerabat-kerabat dekatnya yang di awasi oleh pengacara pak Handoyo. Karena semua perusahaan pak Handoyo telah di wariskan ke cucu semata wayangnya yang ada di Belgia. Seluruh kerabat-kerabatnya pak Handoyo telah mendapatkan bagian masing-masing.
David dan Steven yang selalu suka akan petualangan tertantang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam villa tersebut. Mereka mulai dengan mengawasi kegiatan rutinitas di dalam villa tersebut setiap hari. Mereka pun mencari celah bagaimana masuk ke dalam villa tersebut dengan membuat peta mengunakan kamera drone. Setelah beberapa hari pengamatan akhirnya kedua pemuda pencinta adrenaline itu pun menyusun rencana dan mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah menentukan hari dan waktu yang tepat merekapun menjalankan rencana mereka. Bersambung

MISTERI VILLA BERDARAH PART 2

Hanya penjaga kebun dari pemilik villa tersebut yang sering berinteraksi dengan penduduk sekitar itu pun hanya sekedar membeli kebutuhan sehari-hari dan sayur mayur. Selebihnya tidak ada yang pernah tahu apa yang sedang terjadi di dalam villa tersebut. Hanya seorang kakek tua dan penjaga kebun itu saja yang tahu apa yang terjadi di dalam villa tersebut. Pemilik villa tersebut hanya memiliki dua orang anak pertamanya adalah seorang pengusaha sukses namun telah meninggal selama bertahun-tahun yang lalu. Sedangkan anak keduanya seorang wanita, yang menikah dan menetap di Belgia.
Tepat bulan sembilan tahun dua ribu tiga belas si kakek pemilik villa tersebut wafat. Tidak pernah ada yang tahu penyebab kematiannya hanya kerabat dekat dari kakek itu saja yang mengurus pemakaman sang kakek tua. Penduduk sekitar villa tersebut tidak ada yang di ijinkan untuk membantu pengurusan jenasah atau pemakaman si kakek tua itu. Kakek tua itu di makamkan di kebun belakang villanya sendiri. Sejak pemilik villa tersebut hanya tinggal seorang penjaga kebun yang merawat villa itu. Kini penjaga kebun itu di temani oleh seorang anaknya yang berusia tiga puluh tahunan. Wajah anak si penjaga kebun itu cukup menyeramkan wajahnya penuh dengan bulu yang lebat bagai seokor kera. bagaimana [un di cukur atau di potong bulu itu terus tumbuh lebat dalam waktu dua hari. Badannya hitam legam dan memiliki punuk di bahu sebelah kirinya. Namun hati anak si penjaga kebun ini sangat baik dan dia pun sangat rajin membantu sang ayah menjaga kebun. 
Dia juga sangat ramah dan suka menolong penduduk sekitar. Namun sayangnya anak ini bisu dan tuli sehingga walau wajah dan tubuhnya tidak sempurna akan tetapi tenaga anak ini sangat besar. Pada suatu hari saat sedang hujan lebat di sertai dengan angin puting beliung. Atap sebuah balai ronda terbawa angin dan menghatam rumah seorang warga. Membuat pintu rumah itu hancur dan menutup satu-satunya askse keluar masuk rumah itu. Di dalam rumah itu hanya ada dua orang anak kecil yang berusia dua dan empat tahun. Kedua orang tua anak itu sedang pergi membeli satapan malam. Paijo (nama anak dari penjaga kebun villa angker) yang sedang kebetulan lewat maka dengan sigap ia mengangkat atap balai tersebut. Sehingga akses keluar masuk rumah tersebut terbuka kembali ia melakukan itu sendirian di tengah hujan lebat dan angin yang kencang serta petir yang menyambar. Setelah itu Paijo menemani kedua anak itu yang masih ketakutan atas kejadian yang baru saja mereka alami. Selang beberapa menit kemudian kedua orang tua anak itu pun kembali. Paijo yang melihat kedua orang tua anak itu kembali dari kejauhan ia pun langsung bergegas meninggalkan kedua orang anak kecil itu. Melihat serambi rumahnya yang hancur berantakan orang tua kedua anak itu binggung. Bersambung

MISTERI VILLA BERDARAH Part 1

Steven dan David dua orang sahabat yang selalu berbagi dalam berbagai hal mereka selalu melakukan petualangan yang membangkitkan adrenaline. Salah satu kisah petualangan mereka adalah saat mereka membuka misteri villa angker di salah satu daerah terpencil. Saat itu Steven dan David sedang berlibur di salah satu rumah saudara Steven. Di sana tersebar rumor tentang sebuah villa angker yang penuh dengan mahluk halus. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat villa itu dulu milik seorang pengusaha kaya. Namun pada saat mereka sedang berlibur di villa itu terjadi kebakaran hebat yang mengakibatkan seluruh keluarga itu mati terpangang di dalam. Ada duabelas korban meninggal pada saat kejadian itu si pengusaha dan istrinya, dua orang supir, tiga orang assisten rumah tangga, dua orang anak kecil, dua orang pengasuh anak dan seorang bayi berumur sembilan bulan. 
Beberapa tahun kemudian Villa tersebut di beli oleh seorang pengusaha dari kota besar. Pengusaha itu merenovasi dan memperbaiki Villa tersebut. Selama proses renovasi dan perbaikan banyak kejadian-kejadian aneh di villa tersebut, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Setelah renovasi dan perbaikan villa itu selesai kejadian-kejadian aneh di villa tersebut semakin sering terjadi. Banyak warga sekitar melihat anak-anak berlari-larian dan tertawa pada malam hari. Pada siang hari sering terlihat sosok seorang wanita sedang menggendong bayi. Terkadang saat sore hari terdengar suara-suara orang yang sedang menyapu. Pada suatu saat pemilik baru villa tersebut menghabiskan waktu liburan di villa itu bersama keluarganya. Hanya satu malam saja pemilik baru villa tersebut menginap di villa baru itu. Karena mereka tidak tahan pada kegaduhan yang terjadi di villa tersebut pada saat malam menjemput. Banyak suara-suara teriakan meminta tolong dan tangisan anak-anak kecil serta suara-suara lainnya yang membuat bulu kuduk berdiri. Setelah mengalami kejadian itu si pemilik villa lalu menjual villa tersebut. 
Kemudian selang beberapa bulan kemudian villa itu pun berpindah kepemilikan. Pemilik baru villa tersebut adalah seorang pengkoleksi barang-barang antik. Ia membeli villa itu untuk meletakan barang-barang antik miliknya. Setelah beberapa tahun kemudian pemilik villa tersebut menetapkan untuk tinggal di villa tersebut dia di temani oleh seorang penjaga kebun. Sejak saat itu kejadian-kejadian aneh tidak pernah terlihat lagi. Namun tidak ada seorang pun yang boleh mendekati villa tersebut. Sehingga tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di dalam villa tersebut. Pemilik barang antik itu berusia tujuh puluh lima tahun dan penjaga kebunnya berumur sekitar enam puluhan. Pemilik baru villa tersebut hampir tidak pernah berinteraksi dengan penduduk sekitar. Bersambung

Thursday, April 4, 2019

KISAH DUO SAUDARA SEJATI PART 3


Suherman terus bermain hingga chip yang ada di akun Anwar menjadi tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu. Namun saat itu waktu sudah menunjukan pukul enam lebih dua puluh lima menit. Dan mata kedua pemuda itu pun sudah sangat lelah. Maka tidurlah kedua anak muda itu pagi itu hingga pukul satu siang. Setelah bangun Anwar mengajak sepupunya pun turun dari kamarnya menuju dapur untuk mencari sesuatu yang dapat mengajal perut. Anwar pun bertanya bagaimana cara Suherman dapat memenangkan permainan yang belum pernah sama sekali ia mainkan. Suherman hanya terseyum dan menunjukan kepalanya. Namun Anwar terus mendesak Suherman, dan akhirnya Suherman pun menjelaskan bagaimana ia bisa mengembalikan chip yang Anwar yang telah kalah itu.
Suherman berkata, "Aku mengamati kau bermain dan saat mengamati kau bermain aku melakukan perhitungan peluang setiap kombinasi kartu pada setiap putaran dengan rumus peluang yang aku pelajari di kampusku." jelas Suherman pada Anwar. Suherman pun menceritakan bagaimana dia mengembalikan chip Anwar yang telah kalah. Setelah mendengar cerita Suherman Anwar pun mengajak Suherman bekerjasama untuk mencari peruntungan dari permainan  judi online. Suherman pun menyanggupinya dan mereka sepakat pembagian kemenangan dan kekalahan adalah Suherman mendapat tiga puluh persen kemenangan dan menanggung kerugian sebesar tiga puluh persen. Sedangkan Anwar mendapatkan tujuh puluh persen kemenangan dan tujuh puluh persen kekalahan. Dan Anwar meminta Suherman untuk tidak tinggal di tempat kostnya lagi namun tinggal di rumahnya dan tidur sekamar. Karena Anwar termasuk keluarga yang cukup berada dan kamar Anwar sendiri cukup besar dan memungkinan untuk di tinggali oleh tiga orang. Bahkan beasiswa yang di dapatkan Suherman merupakan pertolongan dari keluarga Anwar. Ayah Anwar yang merekomendasikan Suherman kepada perusahan yang memberikan Suherman beasiswa.
Suherman dan Anwar menjalankan kesepakatan mereka hingga mereka lulus kuliah. Suherman yang dulu hidup kekurangan berkat kesepakatan dia dan Anwar kini dia dapat membantu keuangan keluarganya. Dulu ibunya yang tidak berpenghasilan sekarang memiliki sebuah usaha warung jajanan ringan. Semua keberhasilan ini berkat keahlian Suherman yang ahli dalam berhitung dan dana dari Anwar.